Selasa, 20 Desember 2011

Sejarah Asia Barat Daya I

PERTIKAIAN HEBAT DI TELUK PERSIA
Oleh : Rohmad Tri Mardani[1]

ABSTRAKSI
Timur Tengah adalah sebuah wilayah yang secara politis dan budaya merupakan bagian dari benua Asia, atau Afrika-Eurasia. Pusat dari wilayah ini adalah daratan di antara Laut Mediterania dan Teluk Persia serta wilayah yang memanjang dari Anatolia, Jazirah Arab dan Semenanjung Sinai. Terkadang disebutkan juga area tersebut meliputi wilayah dari Afrika Utara di sebelah barat sampai dengan Pakistan di sebelah timur dan Kaukasus dan / atau Asia Tengah di sebelah utara. Media dan beberapa organisasi internasional (seperti PBB) umumnya menganggap wilayah Timur Tengah adalah wilayah Asia Barat Daya (termasuk Siprus dan Iran) ditambah dengan Mesir.
Wilayah tersebut mencakup beberapa kelompok suku dan budaya termasuk suku Iran, suku Arab, suku Yunani, suku Yahudi, suku Berber, suku Assyria, suku Kurdi dan suku Turki. Bahasa utama yaitu: bahasa Persia, bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Assyria, bahasa Kurdi dan bahasa Turki.
Kebanyakan sastra barat mendefinisikan "Timur Tengah" sebagai negara-negara di Asia Barat Daya, dari Iran (Persia) ke Mesir. Mesir dengan semenanjung Sinainya yang berada di Asia umumnya dianggap sebagai bagian dari Timur Tengah, walaupun sebagian besar wilayah negara itu secara geografi berada di Afrika Utara.
Sejak pertengahan abad ke-20, Timur Tengah telah menjadi pusat terjadinya peristiwa-peristiwa dunia, dan menjadi wilayah yang sangat sensitif, baik dari segi kestrategisan lokasi, politik, ekonomi, kebudayaan dan keagamaan. Timur Tengah mempunyai cadangan minyak mentah dalam jumlah besar dan merupakan tempat kelahiran dan pusat spiritual agama Yahudi, Kristen dan Islam.
Akan tetapi terdapat dua negara yang mengalami konflik yaitu Iran dan Irak sehinga menimbulkan peperangan. Perang Iran-Irak juga dikenal sebagai Pertahanan Suci dan Perang Revolusi Iran di Iran, dan Qadisiyyah Saddam di Irak, adalah perang di antara Irak dan Iran yang bermula pada bulan September 1980 dan berakhir pada bulan Agustus 1988. Umumnya, perang ini dikenali sebagai Perang Teluk Persia sehingga Konflik Iraq-Kuwait meletus pada awal 1990-an, dan untuk beberapa waktu dikenali sebagai Perang Teluk Persia Pertama.

A.    Latar Belakang Masalah
Negara Iran atau Persia adalah sebuah negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya. Meski di dalam negeri negara ini telah dikenal sebagai Iran sejak zaman kuno, hingga tahun 1935 Iran masih dipanggil Persia di dunia Barat. Pada tahun 1959, Mohammad Reza Shah Pahlavi mengumumkan bahwa kedua istilah tersebut boleh digunakan. Nama Iran adalah sebuah kognat perkataan "Arya" yang berarti "Tanah Bangsa Arya".
Iran berbatasan dengan Azerbaijan (500 km) dan Armenia (35 km) di barat laut dan Laut Kaspia di utara, Turkmenistan (1000 km) di timur laut, Pakistan (909 km) dan Afganistan (936 km) di timur, Turki (500 km) dan Irak (1.458 km) di barat, dan perairan Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan.
Pertikaian antara Irak dan Iran bukan soal yang baru, sejak lama kedua negara tetangga ini bermusuhan karena berbagai hal pertama, antara bangsa Arab dan bangsa Parsi selalu ada persaingan dan ketegangan, Faktor yang kedua adalah masalah minoritas etnis. Pada jaman Shah Iran mendukung perjuangan otonomi suku kurdi di Irak, sedangkan Irak mendukung minoritas Arab di Iran yang memperjuangkan kebebasan yang lebih besar atau pemisahan. Faktor yang ketiga adalah perbedaan orientasi politik luar negeri. Iran adalah pro-barat dan Irak adalah pro-uni soviet. Akhirnya hal ini menimbulkan sengketa wilayah. Irak mengklaim kembali beberapa daerah Arab yang direbut dan dikuasai oleh Iran.
Pada tahun 1979, sebuah Revolusi Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini mendirikan sebuah Republik Islam teokratis sehingga nama lengkap Iran saat ini adalah Republik Islam akan tetapi ketegangan hubungan Iran-Irak mulai meningkat ketika Irak pada tahun 1975 melanggar perjanjian Algiers yaitu perbatasan dengan Iran. Pejabat Irak mengatakan bahwa Iran menyerang instalasi ekonomi Irak di Sungai Shatt Al-Arab. Laporan lain mengatakan Iran menembak cadangan minyak Irak di wialayah basra, selatan Irak, dan membakarnya. Untuk sebagian besar hal itu adalah akibat sikap rezim baru di Iran, yang sejak semula berambisi dan juga berusaha untuk mengekspor revolusi islamnya ke negara-negara lain dan Irak menjadi sasaran yang pertama karena di Negara Irak minoritas Sunni menguasai dan menindas mayoritas Shia dan suku kurdi.
Bagian selatan sungai Shatt al –Arab ini merupakan bagian dari perbatasan kedua negara, menuju Teluk dan menjadi jalur pasokan utama minyak menuju Barat. Perbatasan ini pun tak ayal menjadi pemicu peperangan. Di samping juga ada kekhawatiran pemimpin Irak nomor satu, Saddam Hussein, atas perlawanan Syiah yang dibawa Imam Khomeini dalam revolusi Iran.
Perang terbuka akhirnya meletus pada tanggal 22 September 1980. Sebelumnya selama tiga minggu telah telah terjadi pertempuran di perbatasan kedua negara. Irak mengebom pesawat-pesawat Iran dan pangkalan logistik Iran termasuk Bandara Internasional Teheran.
B.     Tujuan
1.      Dalam hal ini tujuan dasar dari Irak sendiri adalah memaksa angkatan bersenjata Iran untuk berhenti dengan memotong arus minyak dari kilang-kilang minyak dan ladang-ladangnya di Khuzestan
2.      Mengetahui bagaimana perselisihan jalur air Syath al-Arab serta perselisihan batas historis dan teritorial
3.      Menganalisa penyebab ketakutan rejim Ba'ath Irak terhadap ancaman Iran dan juga ketakutan terhadap kebangkitan Syi'ah di selatan Irak  karena Revolusi Islam Iran tahun 1979.

  1. Pembahasan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
Peperangan ini bermula ketika pasukan Irak menerobos perbatasan Iran  pada 22 September 1980 akibat masalah perbatasan yang berlarut-larut antara kedua negara dan juga kekhawatiran Saddam Hussein atas perlawanan Syiah yang dibawa oleh imam Khomeini dalam revolusi iran. Walaupun Irak tidak mengeluarkan pernyataan perang, tentaranya gagal dalam misi mereka di Iran dan akhirnya serangan mereka dapat dipukul mundur Iran. Walaupun PBB meminta adanya gencatan senjata, pertempuran tetap berlanjut sampai tanggal 20 Agustus 1988; Pertukaran tawanan terakhir antara kedua negara ini terjadi pada tahun 2003. Perang ini telah merubah wilayah dan situasi politik global.
Gbr. Prajurit Iran dengan masker gas di medan pertempuran
Perang ini memiliki kemiripan dengan Perang dunia I. taktik yang digunakan seperti pertahanan parit, pos-pos pertahanan senapan meesin, serangan dengan bayonet, penggunaan kawat berduri, gelombang serangan manusia serta penggunaan senjata kimia (seperti gas mustard) secara eksodus oleh tentara Irak untuk membunuh pasukan Iran dan juga penduduk sipilnya, seperti yang dialami oleh warga suku kurdi di utara Irak. Dalam perang ini dipercaya lebih dari satu juta tentara serta warga sipil irak dan iran tewas, dan lebih banyak lagi korban yang terluka dari kedua belah pihak selama pertempuran berlangsung (Akhmad Iqbal, 2010 : 170).[2]
Iran memberikan perlawanan gigih dan secara bertahap melancarkan serangan –serangan udara maupun laut, bukan saja terhadap sasaran militer melainkan juga serangan ekonomi. sebagai akibatnya Irak tidak berhasil menguasai kota-kota sasaran ofensifnya dengan cepat dan kemajuan-kemajuan harus dibayar mahal. Selain itu banyak instalasi minyaknya, khususnya kilang-kilang minyaknya, mengalami kerusakan berat. Dalam keadaan itu Irak juga terpaksa menyerang sasaran-sasaran ekonomi Iran, pertama-pertama instalasi-instalasi minyaknya di propinsi Khuzestan, yang mula-mula dihindarinya. Secara demikian perekonomian kedua negara mendapat pukulan berat. Untuk sementara waktu ekspor minyak mereka lewat Teluk dan Selat Hormuz terpaksa dihentikan, dan pendapatan minyak mereka berhenti atau berkurang.
Harapan bahwa ofensif Irak itu juga akan mengobarkan suatu pemberontakan melawan rezim Khomeni sejauh ini sia-sia. Seperti banyak terjadi dalam keadaan serupa itu, kelompok-kelompok yang salin bermusuhan melupakan pertikaian mereka bersama-sama menghadapi invasi Irak yang melangggar kedaulatan Iran dan mengancam keutuhan wilayahnya, biarpun tidak jelas apakah minoritas Arab juga ikut dalam usaha untuk mengusir pasukan-pasukan Irak dari bumi Iran. Juga tidak jelas apakah ribuan orang Iran dalam pengasingan di Irak yang telah menyusun kekuatan untuk menumbangkan rezim Khomeini sudah bergerak atau masih menantikan saat yang baik. Bagaimana pun kedudukan mereka kini sulit.
Bila mereka membantu Irak, mereka akan dianggap sebagai pengkhianat tanah air mereka, tetapi mereka juga sulit tinggal diam saja karena menyadari bahwa kesempatan untuk menumbangkan rezim Khomeini serupa itu kiranya tidak akan terulang kembali.
Front pertempuran Irak-Iran terdiri atas tiga sektor yang jelas, yaitu sektor Utara , sektor Tengah dan sektor Selatan. Kota terbesar di sektor Utara ialah Qasr-e-Shirin, yang teletak pada jalan raya utama Baghdad-Teheran. Kedua sektor lainnya terdapat di propinsi Khuzestan : sektor Tengah meliputi kota-kota penting Dezful dan Ahwez, sedangkan sektor Selatan mencakup Shatt-Arab sepanjang 100 mil dan kota-kota pelabuhan Khoolamshah serta Abadan. Yang paling penting dari ketiganya ialah sektor Tengah.
Cepatnya perang Irak-Iran akan berakhir sebagian bergantung pada kemampuan Irak untuk memotong suplai minyak dalam negeri Iran dengan menghancurkan perangkat pipa minyak dari Ahwez ke Dezful yang merupakan sumber minyak utama bagi lain-lain daerah Iran. Hal itu juga bergantung pada suplai militer baru masing-masing pihak. Iran rupanya mendapat bantuan militer terbatas dari sejumlah negara, termasuk Libya, Suriah, Turki, Kores Selatan, Taiwan, dan sebagainya. Berkat solidaritas Arab, Irak lebih mudah mendapat bantuan biarpun negara-negara Arab yang bersedia membantunya seperti Arab Saudi, Jordania, dan Oman tidak dapat menggantikan senjata Soviet. Uni soviet rupanya menolak permintaan Irak akan senjata-senjata baru tetapi suplai bisa berjalan terus, dan dengan persetujuan Raja Hussein, yang secara terang-terangan mendukung Irak, dibongkar di Aqaba dan diangkut lewat darat ke Irak.
Setelah berhasil menguasai kota-kota penting Khorramshahr, Abadan, Ahwez dan Dezful serta memutuskan suplai minyak dari propinsi Khuzestan ke lain-lain propinsi, pasukan-pasukan Irak kiranya akan mengadakan konsolidasi dan menggali parit-parit pertahanan. Sesudah itu Baghdad akan menawarkan untuk mengadakan perundingan-perundingan kepada Teheran guna menyelesaikan sengketa Irak-Iran. Akan tetapi pasukan-pasukan Iran kiranya akan terus menggempur posisi-posisi Irak sampai kehabisan suku cadang, amunisi, dan bahan bakar, kecuali kalau Iran berhasil mendapatkan suplai baru dalam jumlah yang besar dan kemungkinan ini belum tertutup. Dengan demikian sulit memperkirakan prospek peperangan ini, yang jelas bahwa hasilnya bisa mempunyai akibat-akibat yang penting.
Apabila Iran dengan suplai baru berhasil mengusir pasukan-pasukan Irak dari wilayahnya dan ganti menyerbu Irak untuk menghukumnya, Irak bisa menderita kekalahan dan terpaksa menerina syarat-syarat perdamaian Iran. Dalam keadaan itu Pemerintah Saddam Hussein bisa jatuh dan digantikan dengan pemerintah baru.
Sebaliknya Irak, bila berhasil mempertahankan kota-kota yang didudukinya dan memperkuat kedudukannya, akan mendapatkan tuntutan-tuntutannya tersebut : mendapatkan kembali seluruh Shatt-al-Arab, dikembalikannya tiga pulau itu kepada kedaulatan Arab, hak-hak minoritas Arab di Khuzestan yang sah dan dihentikannya campur tangan Iran dalam urusan domestic Irak. Secara demikian Irak akan memndapatkan nama baik di dunia Arab dan muncul sebagai kekuatan dominan di kawasan Teluk sesuai dengan ambisinya. Shatt al-Arab (bahasa Arab: berarti Pantai Arab), atau Arvand Rūd (bahasa Farsi: berarti Sungai Arvand) adalah sungai yang terletak di Asia Barat Daya. Sungai ini memiliki panjang sekitar 200 km. Ujung selatan sungai ini menandai perbatasan antara Irak dan Iran. Lebar sungai Shatt al-Arab bervariasi antara sekitar 232 m (760 kaki) di Basra hingga 800 m (2.600 kaki) di mulut sungai (Daliman, 1999 : 109).[3]
Gbr. Sungai Shaat-al-Arab, http://id.wikipedia.org/wiki/Basra
Wilayah ini dikatakan memiliki hutan kurma terbesar di dunia. Namun, pada tahun 2002, perang, garam dan hama telah menghancurkan lebih dari 14 juta kurma. 3 hingga 4 juta sisanya berada dalam kondisi yang buruk.
Selanjutnya kekalahan Iran itu akan member angin segar kepada oposisi di luar maupun di dalam negeri untuk melancarkan suatu kudeta melawan rezim Khomeini dan membentuk suatu pemerintah baru, di bawah pimpinan Shapur Baktiar. Apabila tokoh ini menjadi perdana menteri, Iran akan melaksanakan demokrasi nasional yang progresif dan dalam politik luar negerinya berorientasi ke barat. Hubungan baik dengan Amerika Serikat akan dipulihkan, sekalipun atas dasar baru. Iran akan mendapatkan dirinya barang-barang, modal dan teknologi yang diperlukannya untuk membangun dirinya menjadi suatu Negara industri yang kuat, dan Amerika Serikat akan memperbaiki kedudukannya di kawasan.
Kemungkinan besar tidak ada lagi pihak yang keluar dari peperangan ini dengan kemenangan yang menentukan. Irak rupanya akan berhenti menguasai kota-kota penting propinsi Khuzestan, tetapi tidak akan mampu menundukan Iran. Sebaliknya Iran rupanya Tidak akan mampu mengusir pasukan-pasukan Irak dan ganti menyerbu wilayahnya. Dalam kenyataan kontra ofensifnya awal Januari 1981 gagal. Dengan demikian Irak akan mencapai setengah kemenangan dan Iran menderita setengah kekalahan.
Dalam keadaan itu dan di bawah tekanan internasional yang meningkat, Irak dan Iran akhirnya akan menghentikan tembak menembak dan mulai perundingan-perundingan untuk menyelesaikan sengketa mereka secara damai. Akan tetapi hal ini rupanya tidak akan segera terjadi. Sebagai syarat perundingan Iran menuntut agar semua pasukan Irak ditarik mundur, sedangkan Irak bersikeras untuk menguasai sebagian wilayah Iran untuk memperkuat kedudukan tawar menawarnya di perundingan.
Revolusi Iran juga dikenal dengan sebutan Revolusi Islam Persia merupakan revolusi yang merubah Iran dari Monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi, menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Agung Ruhollah Khomeini, pemimpin revolusi dan pendiri dari Republik Islam. Sering disebut pula "revolusi besar ketiga dalam sejarah," setelah Perancis dan Revolusi Bolshevik (http://id.wikipedia.org/wiki).[4]
Walapun beberapa orang berpendapat bahwa revolusi masih berlangsung, rentang-waktu terjadinya revolusi terjadi pada Januari 1978 dengan demonstrasi besar pertama dan ditutup dengan disetujuinya konstitusi teokrasi baru, dimana Khomeini menjadi Pemimpin Tertinggi negara, pada Desember 1979. Sebelumnya, Mohammad Reza Pahlavi meninggalkan Iran dan menjalani pengasingan pada Januari 1979 setelah pemogokan dan demonstrasi melumpuhkan negara, dan pada 1 Februari 1979 Ayatullah Khomeini kembali ke Teheran yang disambut oleh beberapa juta Bangsa Iran. Kejatuhan terakhir Dinasti Pahlavi segera terjadi setelah 1 Februari dimana Angkatan Bersenjata Iran menyatakan dirinya netral setelah gerilyawan dan pasukan pemberontak mengalahkan tentara yang loyal kepada Shah dalam pertempuran jalanan. Iran secara resmi menjadi Republik Islam pada 1 April 1979 ketika sebagian besar Bangsa Iran menyetujuinya melalui referendum nasional.
Revolusi ini memiliki keunikan tersendiri karena mengejutkan seluruh dunia. Tidak seperti berbagai revolusi di dunia, Revolusi Iran tidak disebabkan oleh kekalahan dalam perang, krisis moneter, pemberontakan petani, atau ketidakpuasan militer; menghasilan perubahan yang sangat besar dengan kecepatan tinggi ; mengalahkan sebuah rejim, walaupun rejim tersebut dilindungi oleh angkatan bersenjata yang dibiayai besar-besaran dan pasukan keamanan; dan mengganti monarki kuno dengan ajaran teokrasi yang didasarkan atas Guardianship of the Islamic Jurists (atau velayat-e faqih). Hasilnya adalah sebuah Republik Islam "yang dibimbing oleh ulama berumur 80 tahun yang diasingkan ke luar negeri dari Qom," sebagaimana seorang cendekiawan menyatakan, "jelas sebuah kejadian yang harus dijelaskan. ..."
Revolusi ini terjadi kepada dua peringkat. Peringkat pertama bermula pada pertengahan 1977 hingga tahun 1979 yang dipimpin oleh pihak liberal, golongan haluan kiri dan kumpulan agama. Kesemua mereka memberontak menentang Shah Iran. Peringkat kedua yang turut dikenali sebagai Revolusi Islam menyaksikan naiknya Ayatollah menjadi pemimpin revolusi.

  • Sebab-sebab Terjadinya Revolusi Islam
Kesalahan-kesalahan Shah
Shah Muhammad Reza Pahlevi menjalankan pemerintahan yang brutal, korup, dan boros. Kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah yang terlalu ambisius menyebabkan inflasi tinggi, kelangkaan, dan perekonomian yang tidak efisien.Kebijakan Shah yang kuat untuk melakukan westernisasi dan kedekatan dengan kekuatan barat (Amerika Serikat) berbenturan dengan identitas Muslim Syi'ah Iran. Hal ini termasuk pengangkatannya oleh Kekuatan Sekutu dan bantuan dari CIA pada 1953 untuk mengembalikannya ke kekuasaan, menggunakan banyak penasihat dan teknisi militer dari Militer Amerika Serikat dan pemberian kekebalan diplomatik kepada mereka. Ia, seperti ayahnya, Shah Reza Pahlevi merupakan orang yang sekuler, berbeda dengan cara pandang rakyat Iran pada umumnya yang sangat menghormati agama (Islam Syiah) dalam kehidupan mereka sehari-hari. semua hal tersebut membangkitkan nasionalisme Iran, baik dari pihak relijius dan sekuler yang menganggap Shah sebagai boneka barat.

  • Reaksi Negara-negara Arab
            Mengingat maksud Pemerintah Baghdad tersebut, kebanyakan Negara Arab menyambut Irak - Irak dengan campuran kegembiraan dan kekhawatiran. Mereka menyambutnya dengan kegembiraan sejauh Irak dengan memulai peperangan ini memperjuangkan hak-hak dan wilayah Arab yang dikuasai Iran, dan memberikan pukulan-pukulan kepada Rezim Khomeini, seperti kita lihat di atas, antara bangsa Arab dan bangsa Parsi (Iran ) selalu terdapat persaingan dan ketegangan. Sejak dahulu bangsa Parsi memandang rendah terhadap orang-orang Arab. Selain itu Iran menguasai beberapa daerah yang dahulu sebelumnya merupakan wilayah Arab, termasuk tiga pulau kecil di Selat Hormuz yang disebut oleh Iran pada tahun 1971. Akhirnya seperti disebutkan diatas negara-negara Arab tidak senang dengan pemerintah Teheran sekarang ini karena pemerintah ini berusaha mengekspor revolusi Islam Iran ke negara-negara lain dan secara demikian mengganggu stabilitas dan keamanan mereka. Mereka akan bergembira dengan jatuhnnya rezim Khomeini dan munculnya suatu pemerintah baru yang bersedia menghormati asas-asas bertetangga baik. Raja Hussein dari Yordania adalah yang paling tegas mendukung Irak dan menjanjikan bantuan kepadanya. Hal ini dapat dimengerti karena sejak beberapa waktu diantara kedua negara itu terjalin hubungan yang baik. Akan tetapi juga raja Khaled dari Arab Saudi menyatakan dukungannya bagi Irak dalam “Pertempuran Pan-Arabnya dan dalam konfliknya dengan Parsi, musuh bangsa Arab”. Demikianpun Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab menaruh simpati atas perjuangan Irak. Dukungan untuk Irak itu dikukuhkan pada pertemuan Puncak Aral di Amman (Daliman, 1999 : 110).[5]
Akan tetapi peperangan itu juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan mereka, karena melihatkan mereka dan menimbulkan banyak kerugian bagi mereka. Pada 29 September PM Ali Rajai mengancam akan mengambil tindakan-tindakan terhadap negara-negara yang membantu Irak. Oleh sebab itu Angkatan Udara Iran ternyata mampu melancarkan serangan-serangan secara bertubi-tubi jauh di wilayah Irak. Dengan menyerang ladang-ladang minyak yang merupakan sumber utama perdagangan mereka. Apabila hal itu terjadi, negara-negara industri barat juga akan mendapat pukulan berat.
Produksi dan Ekspor minyak kawasan Teluk akan berhenti atau menurun secara tajam. Lebih dari separuh minyak yang diperdagangkan di pasaran bebas berasal dari kawasan ini. Eropa akan kehilangan 63 % suplai minyaknya, Jepang 73 % dan Amerika Serikat 30 %. Sebagai akibatnya dunia akan jatuh dalam suatu resesi yang parah. Perang Irak-Iran sekarang ini telah menghentikan ekspor minyak kedua negara sebanyak 3,5 juta barrel perhari, bahkan kalau situasinya tidak menjadi lebih buruk, peperangan di kawasan Teluk ini akan menimbulkan kerawanan negara-negara industri terhadap politik minyak yang sulit diperhitungkan.
Bangsa Barat dan Jepang mengikuti jalanya peperangan ini dengan berusaha mencegah terjadinya bencana serupa itu. Khususnya Amerika Serikat sebagai pemimpin mereka menegaskan tekad Barat untuk mengamankan arus minyak dari kawasan Teluk itu. Dalam rangka itu Washington memperkuat kemampuan militernya di perairan di dekatnya dan menekan negara-negara Arab di Teluk agar tidak melibatkan diri dalam peperangan itu. Amerika Serikat juga mengirimkan empat pesawat pengintai elektronis yang ampuh ke Arab Saudi untuk mengamati jalannya peperangan dan apabila dilancarkan serangan-serangan terhadap ladang-ladang dan instalasi-instalasi minyak negara-negara tersebut melaporkannya sehngga dapat diambil tindakan-tindakan untuk menangkisnya.
Namun Yordania tetap pada pendiriannya dan meneruskan persiapan-persiapannya untuk membantu Irak. Pelabuhannya di Aqaba tetap tersedia bagi keperluan Irak dan wilayahnya digunakan untuk mengangkut suplai minyak bagi Irak yang dibongkar di pelabuhan itu. Selain itu 40.000 pasukannya telah disiagakan untuk membantu Irak. Berkat semuanya itu Irak meningkatkan ofensifnya untuk merebut Abadan, Ahwas, dan Dezful yang diincarnya. Berkat sikap Yordania itu, Irak dapat mengerahkan lebih banyak pasukan dan persenjataan ke wilayah Iran. Dalam keadaan itu Suriah tidak akan mudah menyerbunya.
Dengan demikian perang antara Irak dan Irak ini memenuhi jalan buntu karena kegagalan strategis Iraq dan juga kegagalan taktis Iran sehingga gencatan senjata dengan mandat PBB perlu dilakukan untuk menciptakan perdamain dunia dan perdamaian di bumi Timur Tengah khususnya. Hasil yang dicapai ini memperoleh status quo ante bellum dan pengutukan kepada Iraq oleh PBB serta Iran menperoleh temporarily holds onto the Shatt al-Arab waterway.

  • Deskripsi tentang Ayatullah Khomeini
Sayyid Ayatollah Ruhollah Khomeini (lahir di Khomein, Provinsi Markazi, 24 September 1902 dan meninggal di Teheran, Iran, 3 Juni 1989 pada umur 86 tahun) ialah tokoh Revolusi Iran dan merupakan Pemimpin Agung Iran pertama. Lahir di Khomeyn, Iran. Ia belajar teologi di Arak  dan kemudian di kota suci Qom, di mana ia mengambil tempat tinggal permanen dan mulai membangun dasar politik untuk melawan keluarga kerajaan Iran, khususnya Shah Mohammed Reza Pahlavi. Ujian utama pertamanya adalah karena rasa politik yang sesungguhnya, ia pada 1962 saat pemerintahan Shah berhasil mendapatkan RUU yang mencurahkan beberapa kekuasaan pada dewan provinsi dan kota. Sejumlah pengikut Islam keberatan pada perwakilan yang baru dipilih dan tak diwajibkan bersumpah pada al-Qur'an  namun pada tiap teks suci yang dipilihnya. Khomeini menggunakan kemarahan ini dan mengatur pemogokan di seluruh negara yang menimbulkan penolakan pada RUU itu.
Gbr. Ayatullah Khomeini
Khomeini menggunakan posisi yang kuat ini untuk menyampaikan khotbah dari Faiziyveh School yang mendakwa negara berkolusi dengan Israel dan mencoba "mendiskreditkan al-Qur-an." Penangkapannya yang tak terelakkan oleh polisi rahasia Iran, SAVAK, memancing kerusuhan besar-besaran dan reaksi kekerasan yang biasa oleh pihak keamanan yang mengakibatkan kematian ribuan orang.
Khomeini terus bersusah payah selama tahun demi tahun berikutnya dan pada peringatan pertama kerusuhan pasukan Shah bergerak ke kota Qom, menahan Imam sebelum mengirimnya ke pembuangan di Turki. Ia tinggal sementara di sana selama sebelum pindah ke Irak di mana melanjutkan pergolakan untuk jatuhnya rezim Shah. Pada 1978 pemerintahan Shah meminta Irak untuk mengusirnya dari Najaf, lalu ia menuju Paris selama sementara profilnya berkembang sebagai refleksi langsung kejatuhan Shah. Peringatan menggelikan yang terkemudian di Persepolis mulai grate dengan orang banyak dan menyusul rangkaian kekacauan keluarga Shah meninggalkan negeri pada Februari 1979, meratakan jalan untuk kembalinya Khomeini dan 'Permulaan Revolusi Islamnya'. Disambut ratusan ribu rakyatnya di bandara dan ribuan lebih lanjut yang berjajar sepanjang jalan kembali ke Teheran. Ayatollah sudah sepantasnya memandang Iran sebagaimana dirinya, dan Khomeinipun menjadi pemimpin spiritual. Teheran menjadi kursi kekuatan, jauh dari jantung kota Qom.
Pada 1981 Irak menyerang Iran. Perang itu berlangsung 8 tahun penuh yang menghancurkan hidup jutaan muslimin pada kedua sisi tanpa keuntungannya pada tiap yang bertempur. Khomeini meninggal di Teheran pada 3 Juni 1989.

  • Deskripsi tentang Shah Mohammad Reza Pahlavi
Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran (bahasa Farsi: Moḥammad Rez̤ā Pahlavī) (lahir di Teheran, Iran, 26 Oktober 1919 dan meninggal di Kairo, Mesir, 27 Juli  1980 pada umur 60 tahun), yang menyebut dirinya Yang Mulia Baginda, dan memegang gelar kerajaan Shahanshah  (Raja segala raja), dan Aryamehr (Terang bangsa Arya), adalah kaisar  Iran dari 16 September 1941  hingga Revolusi Iran pada 11 Februari 1979. Ia adalah kaisar kedua dari Dinasti Pahlavi and Shah terakhir dari monarki Iran.
Gbr. Shah Mohammad Reza Pahlavi
Shah naik takhta pada Perang Dunia II, setelah invasi Anglo-Soviet yang memaksa ayahnya, Reza Shah turun takhta. Pada masa pemerintahan Mohammad Reza Shah terjadi nasionalisasi industri minyak Iran di bawah Perdana Menteri Mohammad Mossadegh. Pada masa pemerintahan Shah, Iran merayakan kesinambungan monarki selama 2.500 tahun sejak didirikannya Kekaisaran Persia oleh Koresy Agung. Revolusi Putihnya, serangkaian pembaruan ekonomi dan sosial yang dimaksudkan untuk mentransformasikan Iran menjadi suatu kekuatan global, berhasil antara lain memodernisasi negara itu, menasionalisasikan banyak sumber alam, dan memperluas hak pilih kepada kaum perempuan. Namun demikian, kegagalan sepihak dari reformasi tanah, tidak adanya demokratisasi seperti yang dikritik oleh sebagian lawannya, serta kemerosotan kekuatan tradisional dari para rohaniwan Syi’ah yang sebagian disebabkan oleh pembaruan-pembaruan itu, meningkatkan oposisi terhadap kekuasaannya.
Meskipun ia sendiri adalah seorang Muslim, Shah perlahan-lahan kehilangan dukungan dari para rohaniwan Syi’ah di Iran, khususnya karena kebijakan Westernisasinya yang kuat dan pengakuannya terhadap Israel. Bentrokan-bentrokan dengan pihak kanan keagamaan, meningkatkan aktivitas pihak komunis, Campur tangan pihak Barat dalam ekonomi Iran, dan perbedaan pandangan politiknya pada 1953 dengan Mohammad Mossadegh (kedua belah pihak saling menuduh pihak lainnya berusaha melakukan kudeta, akhirnya menyebabkan kejatuhan Mossadegh) kelak menghasilkan pemerintahan yang kian otokratis. Berbagai kebijakan yang kontroversial diberlakukan, termasuk larangan terhadap Partai Tudeh dan penindasan terhadap kaum pembangkang oleh dinas rahasia Iran, SAVAK; Amnesty International melaporkan bahwa Iran mempunyai hingga 2.200 tahanan politik pada 1978. Pada 1979, gejolak politik telah berubah menjadi revolusi yang, pada 16 Januari, memaksa Shah untuk meninggalkan Iran setelah berkuasa selama 37 tahun. Tak lama setelah itu, kekuatan-kekuatan revolusioner mengubah pemerintahnya menjadi suatu Republik Islam.

 
D. Kesimpulan
Perang Irak-Iran yang pecah pada tahun 1980, sebenarnya merupakan kelajutan dari persaingan diantara mereka yang sudah berjalan berabad-bad . mereka bermusuhan dalam berbagai segi,  Faktor yang kedua adalah masalah minoritas etnis. Pada jaman Shah Iran mendukung perjuangan otonomi suku kurdi di Irak, sedangkan Irak mendukung minoritas Arab di Iran yang memperjuangkan kebebasan yang lebih besar atau pemisahan. Faktor yang ketiga adalah perbedaan orientasi politik luar negeri. Iran adalah pro-barat dan Irak adalah pro-uni soviet.antara lain : Persaingan dalam hal keunggulan , yang satu  tidak mau diungguli oleh yang lain.
Sengketa ini begitu berkobar sejak berkuasanya kepemimpinan Ayatullah Khomeini, yang ingin mengeksport Revolusi Islamnya, dan Iraklah  sebagai sasaran pertamanya. Pertempuran dimulai dengan pelemparan granat dari pihalk Iran kepada wakil PM Irak, dan sejak itu pertempuran semakin menjadi. Serangan militer diawali dengan adanya serangan Irak ke pangkalan militer Iran. Dan sasaran berikutnya adalah kilang-kilang minyak dan pusat pengolahan minyak dari keedua belah pihak, sehingga produksi minyak dari kedua negara tersebut turun secara drastis.
Dan adanya Revolusi Iran juga dikenal dengan sebutan Revolusi Islam Persia merupakan revolusi yang merubah Iran dari Monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi, menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Agung Ruhollah Khomeini, pemimpin revolusi dan pendiri dari Republik Islam. Sering disebut pula "revolusi besar ketiga dalam sejarah," setelah Perancis dan Revolusi Bolshevik.

DAFTAR PUSTAKA

Iqbal, Ahmad. 2010. Perang-Perang yang Berpengaruh di Dunia. Yogyakarta : Galang Press.
Daliman, 1999. Buku Pegangan Kuliah “Sejarah Asia Barat Daya”. Surakarta : UNS Press.
http://id.wikipedia.org/wiki/Basra, diakses tanggal 6 Januari 2011



[1] Mahasiswa Sejarah
[2] Akhmad Iqbal, 2010 : 170
[3] Daliman, 1999 : 109
[4] http://id.wikipedia.org/wiki
[5] Daliman, 1999 : 110

Tidak ada komentar:

Posting Komentar